Jumat, 18 Desember 2015

Ngluweng Sampang : Secuil Grand Canyon Di Gunung Kidul

Pos ini harusnya publish Juni malah nongol Desember -dibuang sayang, udah bayar mahal, ogah rugi, banyak foto-foto orang cakep, kenangan nye-nengin sekaligus nge-selin.

Trend blusukan gak hanya dimiliki orang nomor satu Indonesia saja, ternyata banyak anak-anak muda pecinta alam, penghobi jalan-jalan, kekinian pengen jadi yang terdepan dalam hal informasi tempat wisata baru buat di-share di dunia maya ataupun dunia nyata, adanya tuntutan ini membuat mereka berlomba blusukan mencari spot baru buat having fun.

Buddy, August, Sidiq, Omen -sebut saja BASO- karena masih terlalu dini menyadari kalau sebenarnya kita sudah tua, selepas acara hajatan; nikahan; kawinan teman kantor di area Klaten bikin rencana dadakan buat hunting curug yang dipakai Endang Soekamti -ternyata namanya Curug Bayat, Klaten.



Walau cuaca panas terik menyengat kulit, tak ada rencana buat batalin nyebur di curug yang punya landscape batuan alami dengan air sungai yang aseli seger buat mandi. Bermodal dua sepeda motor tipe sport dan bebek masing-masing bernopol AB dan AD walau berbeda merk "HONDA" dan "YAMAHA" sering diadu di race untuk bersaing memperebutkan gelar juara, tapi kali ini punya satu tujuan buat nemuin curug yang masih perawan. Selain itu GPS (Global Positioning System) jadi navigator buat nemuin lokasi masih kurang sempurna tanpa bantuan tanya orang sepanjang perjalanan yang kenyataanya lebih menjanjikan.


Setelah sibuk berputar-putar selama satu setengah jam dan bolak-balik bertanya sampai hampir menyerah, tibalah BASO di sungai kering panjang -masuk musim kemarau- plus tebing bebatuan dengan curug yang cukup lebar untuk berendam berada di bawah air terjun yang terjadi karena himpitan tebing batu, dengan debit air yang tidak kencang dan air berwarna kecoklatan -bercampur dengan tanah- mengundang rasa ingin nyemplung (nyebur), berfoto sekedar mengabadikan lokasi yang kebanyakan orang bilang mirip Grand Canyon ala Gunung Kidul ini -bagi BASO sebuah kekecewaan karena bukan tempat ini yang kita cari. Inilah Luweng Sampang kebanggaan penduduk dukuh Karangasem, Sampang, Gedang Sari, Gunung Kidul. Untuk menuju lokasi baca blog ini Peta Lokasi Luweng Sampang.

"Udah terlanjur, ngapain mundur". Bolak-balik selfie, nyebur berkali-kali, naik turun tebing, gangguin muda-mudi pacaran, godain cabe-cabean, isengin anak kecil mandi, muter sana-sini buat nyari spot yang bagus buat foto jadi obat kekecewaan BASO yang gak nemu curug yang diimpikan "Taraaaaaa....!!!! Ini oleh-olehnya, semoga mengecewakan dan bikin readers makin penasaran.














Karena gak nanya tarif retribusi, tarif parkir dan baca ketentuan sebelumnya -beberapa blog menulis gratis, sukarela masih bertarif wajar baca Menikmati sore di Luweng Sampang- kalau gak salah inget retribusi masuk gratis parkir 5k biaya foto 10k, "Edyan ...!" saya tercengang, menganga sambil meratap isi dompet yang hampir sekarat, sedikit terjadi adu mulut dengan penjaga -katanya pawang- beberapa kali saya tawar namun harga mati yang saya dapatkan, berakhir kecewa dan sedikit kalimat pedas & sinis jadi bukti ketidak puasan.

"Lima Ribu Rupiah itu, buat parkir mobil di Mall, Pak !!"
"Pantesan sepi pengunjung, lha wong kayak begini aturan mainya!"

Prihatin dengan biaya sebesar itu nge-dapetin objek yang sebetulnya gak seindah di foto dengan fasilitas yang minim dan keamanan yang kurang memadai serta objek wisata yang tidak terkelola dengan rapi dan terlihat kumuh.


Jengkel-jengkel gemes sama tukang jaganya yang sudah sepuh (tua) -takut kena karma diusia senja saya kelak- karena durhaka sama yang lebih tua. Mengalah bukan berarti kalah jaga diri dan emosi lebih baik daripada mempertahankan beberapa lembar rupiah, "Anggap saja sedekah", kata salah satu personil BASO.

Gagal sudah rencana makan mie ayam dan minum es dawet di Kalasan karena dompet mulai menipis, bensin udah hampir kering, badan udah capai plus ngantuk ditambah rasa jengkel yang masih nempel, "Duh .., ikhlasin sajalah, Bro". Paling tidak kita udah dapat pesan moral agar lebih teliti, hati-hati dan jeli sebelum nge-lakuin sesuatu.

Jika ada informasi terkini dari Luweng Sampang ini, bolehlah kasih komentar di bawah -semoga saja ada perubahan yang lebih baik, agar objek wisata ini semakin banyak kunjungan. Post ini bukan untuk nge-jelekin, nge-jatuhin hanya ingin mengkritisi pengelolaanya yang kurang baik.

6 komentar:

  1. Aku malah belum pernah ke sini :-(

    BalasHapus
    Balasan
    1. week end ke situ, mas. belum di tutup ya #rofl

      Hapus
  2. luweng sampang emang legenda....

    BalasHapus
  3. Sing njaga isih simbah kae yo? Coba mbiyen ra tau tak tulis ng blog....

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya, "gak apa-lah, Mas. itung-itung bisa explore spot wisata". semoga kedepanya lebih baik

      Hapus