Sabtu, 30 Juli 2016

Kedai Koeno : Citra Rasa Masakan Tradisional Dalam Satu Rumah Makan

"Gloomy Thuesday on July 26th, 2016. Skies almost dark and cloudy hanging on it".
Gak ada rencana, tetapi sempat terpikirkan buat nyoba 'Tahu Gimbal' yang terlihat (sepintas) waktu pulang dari rumah teman di dekat Perumahan Candi Gebang. Keliatan enak dan otentik (aseli) gimbal asal kota Semarang.

Seperti kata peribahasa "Sambil menyelam, minum air". Sebagai area person (orang lapangan) gak 'afdhol' kalau tugas kelar sambil nunggu jam makan siang, lirak-lirik tempat buat : sarapan, makan siang, ngo-pi ataupun sekedar nongkrong-happy yang bikin kerja jadi semangat.

Interior Kedai Koeno
Menu Kedai Koeno

Tibalah saya di sini. Di sebuah kedai berukuran tidak begitu besar cukup untuk menampung enam meja dengan masing-masing enam kursi kayu yang ditata rapi dan berhadapan. Dinding tembok bergambar 'mural' dengan satu banner bertuliskan "kedai koeno berada tepat dibelakang saya. Satu dapur utama ada dibelakang. Gerobak ditaruh di depan.

Kamis, 07 Juli 2016

Renungan Ramadhan (Ku)

Ramadhan 1437 H tinggal menghitung hari. Arrrghh ... entah kenapa saya (selalu) merasa kehilangan (dan) gak rela 'Tamu Agung' ini segera pergi. Mungkinkah ini penyesalan yang muncul akibat lalai ---tidak melaksanakan ibadah dengan khusu' (sungguh-sungguh) selama bulan Ramadhan, alih-alih ibadah berburu diskon, nge-plan bukber bareng teman, tidur seharian dengan dalih "Ibadah", sibuk ngumpulin takjil buat buka, siapin tabungan biar bisa mudik dan bagi-bagi THR buat sesama itulah yang terpikirkan (demi) melewatkan hari-demi-hari selama Ramadhan sambil menunggu datanganya Hari kemenangan 'Lebaran' (pengalaman pribadi).

Astagfirullah ... , semoga Allah masih memberikan kesempatan (untuk) bertaubat disisa Ramadhan; memberikan ampunan dan (berkenan) mengampuni dosa-dosa hamba sebelum hari kemenangan tiba agar dapat kembali Fitrah. Amin Ya Rabbal 'alamin.

Teringat khotbah jum'at kemaren (1 Juli 2016) di sebuah masjid yayasan pendidikan di sekitar Pogung Lor (lupa nama masjid-nya). Khotib ---yang tidak saya ketahui identitasnya--- sangat antusias menyampaikan materi khotbah "Mana dirimu : saat menyambut Ramadhan".

Minggu, 03 Juli 2016

Momen Ramadhan (Yang) Tak Terlupakan

Aroma lebaran ---saya lebih tertarik untuk menyebutnya lebaran (hanya) sebatas tradisi dan perayaan. Sudah tercium di kota budaya sekaligus kota pelajar Yogyakarta.

H-5 kendaraan dengan nopol A-Z sudah terlihat di jalanan kota. Tak kalah ramai pusat perbelanjaan : pasar, mall, toko, department store dibanjiri pembeli yang ingin memborong, sekedar melihat atau berburu potongan harga untuk membuat lebaran semakin berkesan. Meriah.Wah. Indah.

Saya cukupkan intro-nya. Tamu agung (Ramadhan) belum terlewatkan (ditulis, 3 Juli 2016) masih ada beberapa hari tersisa untuk beramah-tamah; bercengkrama (agar) kelak saat berpisah Ramadhan meninggalkan kesan-pesan-catatan-pengalaman tak terlupakan yang membuat (rasa) ingin berjumpa lagi di tahun berikutnya.

"Marhaban ya ... Ramadhan".

Begitulah tamu agung ini diserukan satu bulan sebelum kedatangan. Semua muslim berlomba untuk menjemput dan menjamu dengan apa yang dimiliki sebaik-baiknya. Namun (kebanyakan) hanya nge-hype diawal. Rutinitas ditengah. Malas diakhir. Ya ... !!! Kurang lebih seperti itu-lah.

Walaupun seperti itu-lah, banyak momen; hal-hal sepele & konyol yang ditunggu ataupun terjadi (spontan) saat Ramadhan ---pastinya akan dirindukan--- diantaranya :