Selasa, 23 Februari 2016

Aku Dan Buku

Awal tahun ini. "Entah", kapan tepatnya. Saya mulai tertarik untuk melahap lembar-demi-lembar buku tanpa memperdulikan buku genre apa yang saya baca ---yang penting saya disiplin dan rajin membaca. Novel (fiksi, non-fiksi), biografi, sejarah, pendidikan, ... semuanya saya baca. Padahal 'membaca buku' bukan resolusi tahun ini. Alih-alih tersugesti untuk mencegah pikun karena faktor usia, tetapi (secara) spontan ketertarikan membaca muncul hingga menjadi sebuah kebiasaan malah sekarang tercatat sebagai hobby pada lembar riwayat hidup saya.

sumber : hereisfree.com

Ngomongin buku memang tidak akan pernah habis. Tahun semakin bertambah semakin banyak pula penulis-penulis muda yang mulai merintis dan meng-explore kemampuan menulis hingga (dapat) menerbitkan buku. Seperti tidak mau kalah bersaing, penerbit baru juga bermunculan membaca peluang pasar.

"Mulailah dengan memilih buku yang mengulas hobimu"

Kutipan diatas mungkin bisa readers gunakan sebagai motivasi awal sebelum menentukan bacaan apa yang tepat. Ingat best seller belum tentu tepat, bagus menurut teman belum tentu bagus untuk anda, tebal belum tentu membosankan, karena setiap orang punya pilihan.

Sekarang, setiap bulan saya berusaha menyisihkan penghasilan bulanan untuk membeli minimal satu buah buku untuk menjaga hobby yang masih dini saya geluti agar tidak menguap begitu saja dan secara tidak langsung koleksi buku-buku saya bertambah. Lumayan, bisa dipakai buat "mas kawin" atau "warisan buat anak", kelak.

Selasa, 16 Februari 2016

Seafood & Sun Set Di Pantai Depok, Bantul


Baru setelah tinggal di Yogyakarta, saya mulai menikmati makanan yang dahulu tidak saya sukai sebut saja sea-food makanan dari sumber daya laut : bermacam jenis ikan, kerang-kerangan, udang, rajungan, kepiting maupun lobster semuanya (hampir) sudah saya coba. "Ya", semua bermula dari hobby teman-teman yang sering ngajak untuk menikmati makanan hasil laut ini.

Jaman masih jadi mahasiswa makanan jenis ini selalu saya tolak jangankan membeli, mencicip atau menjilat sedikit saja saya tidak sudi ---disamping harganya yang tidak ekonomis, bau amis, lendir dan tekstur kenyal. Namun setelah lulus dan (merasa mampu) mencari nafkah sendiri ---untuk kebutuhan hidup ataupun membeli sesuatu di jaman kuliah tidak (dapat) terbeli. 

Saya mulai ikut mencoba menikmati makanan yang dari dulu teman saya bilang,
"Bodoh loe, Men. Masak belum pernah nyicipin seafood ? Tu..., liat kepiting, rajungan, kerangnya gedhe-gedhe banget enak ni..., kalau dimasak asam-manis-pedas atau lada hitam, digoreng tetap (jadi) enak. Pokoknya surga dunia-lah, Men".

Belum lagi bapak saya ---karena sering keluar kota (lebih sering) di pesisir kota (dekat laut)--- meledek,
"Ya ..., sudah. Bapak saja yang makan (semua). Makanan mahal kok, ndak doyan tho, Le !"

Benar kata sebuah pepatah, "Don't judge sea-food by it's texture" maksud saya, "Don't judge the book by it's cover". Walau (mungkin) belum mengetahui siapa penulis pepatah tersebut readers pasti sudah mengenal pepatah ini dengan baik.


Benar juga kata salah satu teman-kost yang (pernah) ngasih pernyataan ----lebih sering bikin campur aduk hati & pikiran saya. "Hanya Allah yang bisa membolak-balikkan hati seseorang", pernyataan-nya kala itu.