Sabtu, 16 April 2016

Tahu Gimbal Pak Yono VS Si Mbok

Tahu gimbal. Makanan tradisional aseli kota Semarang yang bikin penasaran untuk dicicipi. Dari segi bahan (sangat) menyehatkan : rajangan kol mentah , tauge, tahu putih (digoreng setengah matang), potongan bakwan, gimbal udang, telur disiram dengan bumbu kacang (agak encer) dengan citra rasa yang khas (menggunakan petis udang) dengan pelengkap berupa : kerupuk, ketupat, lontong atau nasi (sumber : Wikipedia )

Seingat saya, ini kali kedua menikmati kuliner khas Semarang ini ---walaupun belum pernah icip-icip di kota asalnya, mungkin suatu hari akan saya coba. Dari artikel ini saya ingin me-review warung makan "Tahu Gimbal" di Yogyakarta dua sekaligus.

1. Tahu Gimbal Pak Yono

Tahun 2008 (kalau tidak salah ingat) saya mengunjungi warung tahu gimbal (tidak bernama) ini untuk kali pertama. Terletak dipinggir Jalan Tentara Pelajar, Jetis, Yogyakarta di sebelah utara Bank BPD DIY dijajakan dengan gerobak penuh dengan bahan baku tahu gimbal, satu penggorengan untuk memasak bahan ---tahu gimbal dibuat saat dipesan--- menggunakan 'terpal' warna biru sebagai tenda dan beberapa kursi untuk pelanggan yang ingin makan di tempat.

Beberapa kursi plastik yang berjajar dibelakang gerobak dipenuhi pengunjung yang rela antri dengan sabar untuk mencicipi sepiring penuh tahu gimbal yang terdiri dari : potongan bakwan, kol, tauge, gimbal udang, seledri, kerupuk udang, telur mata sapi, ketupat disiram dengan bumbu kacang yang ditumbuk kasar bisa juga request sambal bagi penyuka pedas. Gak rugi ... ! walaupun antrian panjang, semua bakal terbayar dalam tiap suapan.

Big Portion. Sungguh mengenyangkan. Tidak habis dimakan sendirian (bagi saya). Penjualnya tidak 'medhit' untuk urusan porsi. Pelayannya juga cekatan. Bila tidak ingin menunggu lama jangan datang pada jam makan siang karena antrian akan semakin panjang.

Senin, 28 Maret 2016

Potret Jasa Pelayanan Terkini



14 Maret 2016, pukul 13.00 WIB, BNI Kancab. UPN




Pengalaman yang menarik. Sepele namun masuk akal, security ---lebih sering dikenal Satpam--- pria dengan (kebanyakan) postur tegap, besar, muka gahar dengan atasan putih dan bawahan black-blue (Biru-Hitam) ini menyapa saya ketika melewati pintu masuk Bank. Dengan ramah dia menyapa, "Selamat siang, Mas (conditional sesuai umur yang disapa). Ada yang bisa saya bantu?" Hal biasa karena greeting sudah jadi kewajiban dalam jasa pelayanan.


Percakapan selanjutnya sebagai berikut :
A: saya
B: security
A: Mau buat rekening baru, Pak. Syaratnya apa ya? 
B: (dengan yakin menyebutkan syarat-syaratnya) isi formulir permohonan, FC KTP/Kartu Mahasiswa, dan setoran awal 250 ribu.
A: Saya dari luar kota dan bukan mahasiswa. Bisa? 
B: untuk warga luar kota harus menyertakan KIPEM.
A: saya tidak punya KIPEM, tapi bawa surat pengantar dari kantor. Apakah boleh? 
B: Boleh saya lihat KTP dan surat pengantar-nya? (selanjutnya saya diarahkan untuk menuju "mesin antrian" dan langsung dipilihkan antrian CS).Nomor antrian 43. Silakan menunggu sampai nomor antrian-nya dipanggil(sambil mempersilakan saya duduk di sofa ruang tunggu).

Dari percakapan di atas saya yakin security sekarang menambah fungsinya (selain sebagai keamanan) sebagai front office yang harus mengenal produk untuk bisa diinformasikan; menggali informasi untuk inquiry; mendengar serta menjawab keluhan dengan memberikan solusi ---masih dalam kuasa security.


source : halopolisi.com



Betapa "amazing-nya" bapak berseragam ini, bisa jadi kemampuan beliau dalam handling nasabah lebih mumpuni ketimbang CS-nya jika dilakukan dengan hati. Yang jadi point-plus di sini kecakapan, keramahan, penguasaan prosedur; tahapan; proses untuk menjawab kebutuhan atau keluhan nasabah sehingga nasabah lebih diuntungkan karena tidak perlu antri berjam-jam hanya untuk bertanya "syarat buka rekening baru". Kecewa (berat) pasti. Karena sudah menunggu antrian, pas ketemu CS (Customer Service) ternyata syarat administrasi belum lengkap. Komplain terjadi akibatnya antrian mengular dan menyulut emosi nasabah lain yang antri.