Penjual tahu bulat yang sering di bicarakan teman-teman sekantor ---teman kantor baru seminggu ini--- sukses bikin penasaran sejak pertama kali saya dengar cuitan mereka, "Tahu Bulat, digoreng dadakan, 500an, anget-anget ..., gutih-gurih..., Enyooooiiii ...".
Kurang lebih seperti itulah strategi yang (saya anggap) paling menonjol selain mobil pick up ---truk pengangkut barang ukuran kecil yang biasa disebut mobil bak terbuka--- yang digunakan untuk menjajakan sekaligus dapur utama untuk menggoreng tahu bulat ---tahu goreng asli sumedang yang berbentuk bulat--- secara dadakan (langsung ditempat).
Bagaimana tidak bikin geli, dengan intonasi yang monoton dan naik turun entah berasal dari rekaman kaset atau mulut penjualnya sendiri ---belakangan ini teman saya berceritera suara tersebut berasal dari kaset rekaman yang diputar.
Strategi penjualan yang menurut saya ampuh; ciamik; mujarab buktinya banyak juga yang menunggu ataupun mengantri untuk membelinya. Setelah membaca beberapa artikel dari tahun lalu (2015) saya pun mulai tertarik untuk mengulik bisnis yang kembali meroket berkat strategi pemasaran yang saya anggap 'norak' tapi buktinya rupiah-demi-rupiah terus bergulir ke kantong penjualnya.
