2 Januari 2016 euphoria tahun baru masih terasa walaupun kembang api dan bunyi terompet sudah berlalu kemaren malam (1/1/2016). Maklum libur panjang jalanan macet, tempat wisata ramai pengunjung dengan senang hati saya tinggalkan sementara kota budaya "Yogyakarta" untuk menengok kota kelahiran "Boyolali" yang sudah terkenal sebagai kota susu, "Susu atau Sapi ?" Saya lebih memilih susu ketimbang sapi -walaupun Susu dari Sapi- dengan alasan kemanusian bukan kehewanan, "hahahahaha".
Satu dekade sudah -"Satu dekade berapa tahun, coba jawab ?"- Saya tidak menginjakan kaki di pusat kota Boyolali, kota kelahiran saya sendiri dengan alasan, "Boyolali kurang menarik", "Kotanya sepi", "Jauh dari modernisasi". Inilah "Malin Kundang" era modern, "kacang lupa kulit" perumpamaan seperti itu, karena memang benar adanya sebelum saya menginjakkan kaki kembali ke pusat kota Boyolali -Dua tahun lalu ibu dan adik lelaki saya bercerita tentang pembangunan alun-alun dan program mempercantik Boyolali, itupun saya abaikan paling bualan pemerintah saja- sekarang memiliki alun-alun luas, ramai, meriah dengan deretan bangunan indah nan-megah -gedung pemerintah dan tempat ibadah- dalam satu komplek perkantoran.
"Incredible ..... !!!"
Sambil bergumam, "Beneran ini Boyolali, kota yang biasa-biasa saja sekarang disolek seakan tak ingin kalah dengan kota lainya ?". Saya berikan apresiasi buat Bupati Boyolali Bapak Drs. Seno Samodro yang merealisasikan janjinya.

